Buku cerita dinosaurus dan ten-ten series.

Komik terakhir yang dibeli sekitar yiga bulan lalu dah selesai dibaca oleh cupcake. Pas ditawarin untuk beli komik baru, awalnya dia menolak. Sunshine ngiler banget melihat dinosaurus sampai tadi pagi pun membujuk agar dibeliin buku dinosaurus yang besaaarrr roaaarrr… maka pagi tadi meluncur ke toko buku terdekat. Akhirnya cupcake juga ikutan minta dibeliin komik baru.

Buku bertema dinosaurus alhamdulillah ada di sana. Sunshine pilih gambat dinosaurus paling besar dan roarrr sementara cupcake memilih komik ten ten series.

Entahlah sunshine ngerti apa isi buku cerita dino itu atau enggak, taman kanak-kanak di sini gak begitu ketat dalam urusan akademis.

Kalo beli semua buku dinosaurus itu, ya mahal dek. Akhirnya adek memantabkan satu pilihan yaitu yang gambar dinosaurusnya tampak besar dan gaharrr…

Iklan

Sukses bisnis rumahan: ada apa dengan cinta

camerancollage2016_08_31_234516

Datanglah paket boxset AADC 2 ke rumahku kemarin pagi, para pembaca. Ini di luar dugaan soalnya gak nyangka bakal datang secepat ini dan wow! senyumku langsung sumringah. Akhirnya bisa menonton AADC 2 juga… hore! Memang terlambat tahu daripada temen-temen yang menonton di masa perdana. Akan tetapi, baru kali inilah aku punya waktu luang untuk menghibur diri.

Abisnya aku penasaran, apakah filmnya sebagus sekuel yang pertama, yang santer di tahun 2002 itu?

Dan ternyata?

Well, aku coba beri pendapat mengenai kulit luarnya saja yah. Kalau mau kupas tuntas ya bisa panjang berlembar-lembar.

Menurutku ya lumayan… jika yang nonton seumuran aku. Atau… yang dulu pernah baper akibat menonton AADC di tahun 2002. Entahlah bagi Anda yang masih berstatus siswa atau mahasiswa, apa pendapat Anda mengenai film AADC 2?

Ini juga film bagus apalagi jika kita paham betul apa maksud menonjolkan puisi-puisi roman sejak sekuel AADC pertama. Menjelaskan kisah cinta yang rumit dan yoyo gak mungkin dalam waktu 2 jam bukan? mungkin itu pula mengapa diperlukan sajak puisi untuk menerangkan koheren pikiran tiap tokoh sambil berharap penonton tidak terbata-bata menafsirkan tiap bait. Bukan puisi yang berat di kedua film AADC ini, sebab pemilihan diksi dalam tiap baitnya mudah ditafsirkan oleh aku yang sangat awam. Jadi kupikir, mampu dicerna oleh penonton awam itu bagus.

Itu baru mengupas kulit luarnya saja dan kesimpulannya ya lumayan terhibur.

Untuk Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, dan sang sutradara Riri Riza, keep the great work! aku padamu… hihihi…